Artikel di Suara Alumni
Suara Alumni »
Sebetulnya agak malu-malu mau jika membicarakan unofficial website PSTP (Program Studi Teknologi Pertanian) jaman jadul dulu. Website yang rasanya dibuat dengan segenap jiwa dan tenaga, dengan tujuan untuk berlatih agar bisa buat web sendiri huehueue. Semangat meledak-ledak hentakkan jemari sampai keriting ketik satu persatu data-data yang berkaitan dengan PSTP kala itu. Walau belum semuanya tampil disana, paling gak bisa membuat PSTP bertaring di dunia maya. Menurut saya sih hihihi.
Jeritan Alumni »
Oleh Anton Muhajir
Upaya mengusir hama wereng di sawahnya justru mendatangkan kematian bagi Wayan Jojol, petani di Banjar Wang Bung, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Petani palawija dan padi ini jatuh pingsan setelah menyemprot hama wereng di lahannya dengan pestisida. Ketika petani lain hendak menolongnya, Jojol sudah meninggal.
“Kami menggotongnya dari sawah sudah dalam kondisi meninggal. Tidak jelas penyebabnya. Tapi kemungkinan besar dia keracunan karena pestisida,” Ketut Rena, petani di banjar yang sama, mengenang kematian Jojol yang terjadi pada pertengahan 1985 tersebut.
Menurut Rena, ketika menyemprot hama tersebut Jojol tidak menggunakan masker. Untuk …
Suara Alumni »
Jika kita melihat kondisi pasca tahun 1990, bagaimanakah keberlangsungan profesi dari kakak kelas kita dalam dunia ekonomi ?. Setelah lulus jadi tukang sarjana, lantas apa profesinya mereka ? Selain profesi ‘asal’ kerja, mayoritas mereka bekerja pada bidang-bidang non teknologi industri pangan.
Setahu saya dan inipun hanya ada pada pengamatan diri pribadi bahwa lulusan Teknologi Pertanian ternyata bekerja dibidang : Sales Marketing perusahaan farmasi, Sales Marketing Kartu Kredit dan Kredit Bank, Teller Bank, Manajer Bank, Aktivis perempuan di sebuah LSM, Technical enginer perusahaan telekomunikasi, penjual kerupuk rambak (tunjuk hidung sendiri), Fotographer, Guru …
Suara Alumni »
Usaha di dunia nyata dan dunia maya (melalui internet dan website) sebenarnya mempunyai kemiripan, namun ada pula perbedaan mendasar. Katakanlah bila kita ingin jualan buku. Secara di dunia nyata, kita harus menyewa ruko, bayar biaya keamanan, listrik dan telpon, keluar tenaga lebih untuk aktivitas dalam/luar toko, sehingga secara mendasar membutuhkan investasi besar. Belum lagi potensi resiko yang akan dihadapi sewaktu-waktu jika ruko tersebut terbakar ataupun kemalingan. Maka hilanglah semua modal yang ada dalam ruko.


|